What engineering means to you?

Halo perkenalkan, nama saya Nugraha Syahputra, usia 32 tahun dan sekarang menjadi mahasiswa baru Teknik Industri di Universitas Esa Unggul.

Blog ini saya buat dengan tujuan menumpahkan segala yang ada di pikiran dan hati saya serta sebagai diary atas perjalanan hidup saya hingga beberapa tahun ke depan.

Seperti judulnya di atas, pertama-tama saya akan membahas mengapa memilih teknik industri?

Sebelum menjawab saya akan menjelaskan tentang background saya terlebih dahulu. 

Berdasarkan hasil psikotest, saya memiliki keunggulan lebih di bidang verbal atau kata kata dengan point 24 sementara di logika atau angka dengan point 20. Psikolog juga menyarankan saya untuk berkuliah di hukum, hubungan internasional dan media massa melihat keunggulan saya di bidang kata-kata tersebut. 

Tapi, tunggu dulu.

Yes I have a fond for words. I like to know about new words, learn about new languages, and how they can be conveyed from people with their own unique style. Words is the basic or fundamental of how civilizations build

(Ya aku menyenangi kata-kata. Aku menyukai untuk mengetahui tentang kata-kata baru, belajar bahasa baru, dan bagaimana kata-kata tersebut dapat disampaikan dari orang-orang dengan gaya mereka sendiri yang unik. Kata-kata adalah dasar atau fundamental bagaimana peradaban dibangun)

Setelah riset melalui glints dan beberapa aplikasi jobseeker lainnya saya menemukan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan hubungan internasional sangatlah sedikit, sementara sebaliknya jurusan hukum menyediakan berbagai macam lowongan.

Lalu mengapa tidak memilih jurusan hukum? 

Saya tidak tertarik sedikitpun dengan hukum, entah mengapa. Law is a tool for engineering society, demikian yang aku tahu. Bagus memang kuliah di hukum, lulus bisa dapat gaji yang memadai serta kalau sukses dapat dipandang oleh masyarakat. Tapi bagaimana bila aku meminta lebih? Pikirku. Darimana orang-orang hukum ini mendapatkan uang? Saya sempat menonton / membaca, bahwa biasanya untuk mendapatkan uang, para pengacara ini rela membela kasus apa saja walau bertentangan dengan hati nurani mereka. That's a red flag for me.  

Dari situ ketertarikan ku dengan bidang hukum pun menjadi nol.

Teknik Industri pun saya juga sebenarnya masuknya tidak sengaja. Dulu saat mendaftar di Atmajaya Yogyakarta, pilihan pertama saya adalah teknik biologi. Terus diterima di teknik biologi, namun hati ini masih ragu karena ingat sewaktu kecil cita-cita ku adalah bekerja di NASA atau perusahaan aerospace. Mengingat umur sudah tidak muda lagi, kutanggalkanlah cita-cita menjadi insinyur aerospace lalu lebih memilih menjadi teknik industri walau saat itu belum tahu apa itu. Demikianlah jawaban dari mengapa aku memilih teknik indusri

Kuliah di Atmajaya Yogyakarta yang sangat berat sementara ternyata aku belum siap dengan materi-materinya membuatku berpindah ke Universitas Esa Unggul. Semester pertama masih bisa dihadapi namun semester kedua mulailah teknik industri menunjukkan taringnya. Aku pun teringat akan kata-kata konselor di kampus sebelumnya, "Di teknik industri itu banyak matematikanya loh, kalkulus pun sampai kalkulus III, kamu yakin kuat?" Aku yang di awal masih cengangas cengengesan ini, mulai berpikir panjang di semester dua ini. Apa kamu yakin kamu ingin berkutat terus dengan matematika seperti ini? Kalau iya bagus, tapi kalau tidak mau kemana lagi kamu pergi? Usia mu sudah habis bro, demikianlah kata diriku ini. 

Setiap malam aku pun menonton video-video tentang teknik industri, mencoba menguatkan diri, namun lama-lama ternyata aku tidak kuat juga. Entah masih ada yang menjanggal dalam diri ini... hingga ada pertanyaan baru muncul di diriku? 

What engineering means to you? 

Engineering sendiri berarti  the designing, testing and building of machines, structures and processes using maths and science. (translate sendiri ya..)

Tapi what engineering means to myself? Rada sedikit filosofical ya pertanyaannya

Mungkin pertanyaannya akan lebih spesifik lagi.. apa yang akan membuatmu bertahan lama di jurusan teknik yang dikenal sulit ini? 

Apakah iming-iming akan gaji yang besar? Lowongan kerja yang banyak? Dan lain sebagainya?

Aku jadi teringat akan perkataan Pak B.J Habibie, bahwa bila kamu menyenangi sesuatu maka tekunilah sampai berhasil.

Tapi di teknik ini aku belum menemukan hal yang menurutku harus kutekuni sampai berhasil. Perlahan apa yang kusenangi seperti matematika dan fisika memudar. 

Kembali ke pertanyaan, what engineering means to myself? Is it the self-challenge that I am looking for? Atau pengakuan diri kah yang kucari? 

Saya mulai berpikir dan berpikir... engineering means to me is, the way i get into self-actualization. The way i can practice what I know and what I learn into something that is practical and real-world tangible product. With engineering I can learn how to problem-solving and sharpened my critical thinking.

(Engineering untukku adalah cara bagaimana aku mendapatkan aktualisasi diriku. Cara aku berlatih apa yang kuketahui dan kupelajari sehingga menjadi sesuatu yang praktikal dan produk dunia nyata yang dapat digenggam. Dengan engineering, saya bisa belajar bagaimana melakukan pemecahana masalah dan mengasah pemikiran kritis saya)

Demikianlah hasil buah pikir sementara saya tentang engineering. Tidak tahu bagaimana 5 - 10 tahun lagi kedepan, apakah aku akan tetap konsisten di engineering, apakah sudut pandangku akan tetap sama.

And that is all from me.

How about you?

What engineering means to you?


Komentar